Ketika Tuhan mengutus Nabi Musa as untuk berdakwah kepada Firaun. Sebetulnya Tuhan juga tahu, kalau Firaun itu sudah tidak bisa diluruskan lagi. Jadi apa gunanya dakwah Musa itu ? Ya dakwah itu berguna untuk peningkatan iman Nabi Musa sendiri, serta orang2 yang mau diajak. Kaum Nabi Musa as juga termasuk bangsa yang paling bandel juga. Seperti Nabi2 yang lain, Musa sendiri juga mengalami hinaan, cacian, ejekan dan cibiran dari kaumnya. Hampir semua Nabi tidak diterima di negerinya sendiri, sementara di negeri lain diterima dan disambut dengan baik.
Akibat Kebandelan kaumnya Musa diberilah musibah demi musibah silih berganti. Ketika diberi ujian dengan kemarau yang panjang, maka kaum yang bandel ini datang kepada Nabi Musa as. Wahai Musa, tolonglah berdoa kepada Tuhanmu, hapuskanlah kemarau panjang ini dengan hujan, agar penderitaan kami dapat berkurang sedikit. Nanti, kalau hujan sudah datang, kami akan jadi pengikutmu yang setia. Maka Musa pun berdoa kepada Tuhan supaya diturunkan hujan.
Setelah Musa berdoa, dengan serta merta hujan lebat pun turun. Maka kaum Nabi Musa ini pun bersenang2 dengan riang gembira. Janji mereka yang akan menjadi pengikut setia Nabi Musa sudah dilupakannya setelah ia mendapat nikmat. Maka Tuhan pun kirim belalang sebagai ujian bagi kaum Musa. Tanam2an pertanian, perkebunan yang tumbuh hijau akibat hujan lebat disikat habis oleh semua belalang yang ada. Setelah tanaman habis dilalap oleh belalang dengan tanpa sisa, maka belalang meneruskan aksi mereka dengan menggerogoti atap2 rumah penduduk. Ketika atap rumah penduduk sudah ompong melompong, belalang pun melanjutkan aksinya dengan melahap dinding2 rumah yang terbuat dari kayu.
Setelah tidak tahan dengan penderitaan akibat serangan belalang, datang lah kaum yang bandel ini kepada Nabi Musa as. Dengan berhiba2 ia minta supaya Nabi Musa berdoa agar belalang dimusnahkan dari negeri mereka. Nanti, kalau belalang sudah musnah, mereka berjanji akan menjadi pengikut Musa yang setia. Nabi Musa kasihan juga melihat penderitaan mereka, maka Nabi yang penuh dengan kasih ini pun berdoa lagi. Setelah berdoa belalang pun sirna. Apa yang terjadi dengan kaum Nabi Musa ? Bukannya mereka memenuhi janji untuk setia kepada Musa, mereka malahan menuduh Nabi Musa sebagai penyihir yang nyata.
Tidak puas dengan tuduhan keji itu, maka Kaum Nabi Musa ini juga menghina, mencerca, mencaci maki setiap ada Nabi Musa. Sebagian dari mereka bahkan ada yang hendak mengusir Musa. Namun sebagian lagi melarang, sebab mungkin saja Musa masih ada manfaatnya.
Nabi Musa tetap sabar, ketika datang ujian kutu ia pun masih mau berdoa untuk kaumnya. Ujian kutu ini menyerang negeri. Seluruh kampung dan negeri dipenuhi oleh kutu. Maka, setelah kaum yang bandel itu tidak tahan, mereka datang lagi kepada Nabi Musa. Minta didoakan lagi dengan merengek2. Berjanji lagi. Setelah didoakan ingkar janji lagi. Maka datanglah serangan katak, diseluruh negeri penuh dengan katak. Minta didoakan lagi, berjanji lagi, ingkar lagi, dasar bandel !!!
Setelah katak hilang datang lagi ujian darah, dimana2 ada darah yang amis dan menjijikkan. Kaum yang bandel itu minta didoakan lagi. Setelah didoakan dan hilang musibah2 nya, Nabi Musa dituduh lagi sebagai tukang sihir. Cerita mengenai Musa sebagai tukang sihir ini pun sampai juga ke telinga Firaun. Maka Firaun pun mengundang Musa untuk melakukan perlombaan sihir.
Sebetulnya Firaun agak ngeri juga berhadapan dengan Musa, karena ia tahu sebetulnya Musa ini benar utusan Tuhan. Dan ia yakin tak akan menang menghadapi Musa. Tetapi, karena gengsi, ia tak mau membatalkan undangannya itu. Namun demikian, diam2 Firaun mendatangi Bal’am, seorang wali yang sangat soleh ketika itu. Bal’am sangat terkenal karena setiap doanya juga pasti terkabul. Bahkan, doa belum terucap, baru tangannya saja menengadah, maka pintu2 langit sudah terbuka, seolah2 siap menyambut doa Bal’am.
Oleh Firaun, Bal’am disuruh berdoa supaya Nabi Musa as tersesat. Tadinya Bal’am enggan berdoa yang seperti itu. Namun, karena hadiah2 yang terus mengalir, baik secara langsung maupun melalui istrinya, maka hati Bal’am tergoda juga. Singkat cerita Bal’am berdoa supaya Musa tersesat. Benar saja Musa tersesat selama 40 tahun. Jibril datang bahwa ia tersesat karena doa dari si Bal’am. Maka Musa pun berdoa kepada Tuhan, supaya diberikan petunjuk untuk dapat bertemu dengan Firaun. Sebetulnya, tersesatnya Nabi Musa ini juga ujian bagi Musa, ia pernah lupa berdzikir kepada Tuhan.
Akhirnya, Musa berhasil sampai di istana Firaun. Disana, ia sudah ditunggu oleh ahli2 sihir yang sudah berpengalaman. Ketika, ahli sihir Firaun melemparkan tali2 mereka, dengan gesitnya tali2 itu berubah menjadi ular. Musa merasa gentar melihat tali2 yang berubah jadi ular2 yang ganas. Ia lupa lagi untuk berdzkir kepada Tuhan. Oleh sebab itu Musa menjadi takut. Musa lupa bahwa ia tidak boleh takut, karena Tuhan selalu mengawasi apa2 yang akan terjadi. Sampailah pada puncak ketakutannya itu, maka Nabi Musa diperintahkan oleh Tuhan untuk melemparkan tongkatnya. Tongkat dilempar berubah menjadi ular yang sangat besar, menelan semua ular2 kecil buatan ahli shir.
Melihat itu semua ahli sihir Firaun bersujud, tunduk dan patuh serta berjanji akan menjadi pengikut Musa. Tetapi ahli sihir itu dihukum Firaun dengan potong kaki dan tangan, kaki kiri dan tangan kanan dipotong, atau sebaliknya kaki kanan dan tangan kiri yang dipotong.
Sebetulnya ceritanya sangat panjang, tetapi intinya adalah, Tuhan akan kirim penguasa yang nakal jika rakyat suatu bangsa juga bandel dan susah diatur…Jadi sebenarnya benarlah kalau ada yang mengatakan bahwa penguasa itu refleksi dari rakyatnya. Kalau rakyatnya baik, maka pemimpinnya juga baik, dan sebaliknya…
Alkisah seorang raja yg kaya raya & sangat baik. Ia mempunyai banyak sekali emas & kuningan. Karena terlalu banyak sehingga antara emas & kuningan tercampur menjadi satu.
Suatu hari raja yg baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya. Dia membuka gudangnya lalu mempersilahkan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka. Karena antara emas & kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali dibedakan mana yg emas & mana yg kuningan, lalu mana yg emasnya 24 karat & mana yg emasnya hanya 1 karat.
Namun karena ada peraturan dari Sang Raja, yaitu bila mereka sudah MEMILIH & MENGAMBIL SATU dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi.
Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yg mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yg mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja di kebun raja & merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja AKAN MENAMBAH & MEMBERIKAN KADAR KARAT itu sedikit demi sedikit.
Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu. Waktu yg diberikan kepada mereka semua ialah SATU SETENGAH HARI, dengan perhitungan SETENGAH HARI UTK MEMILIH, SETENGAH HARI UTK MERENUNGKAN & SETENGAH HARI LAGI UTK MEMUTUSKAN.
Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tsb. Karena tidak jarang terjadi perebutan emas yg sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kpd salah seorang rakyatnya, "Apa yg kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu di sini?"
Jawab orang itu: "Tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu."
Lalu tanya prajurit itu lagi: "Seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya? Sedangkan waktumu sangat terbatas?"
Jawab orang itu lagi: Tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yg ada ditanganku begitu waktuku habis."
Lalu prajurit itu berkeliling & ia menjumpai seorang yg tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya. Bertanyalah prajurit itu kepadanya, "Hai orang kaya apa yg kau cari di sini.Bukankah engkau sudah lebih dari cukup?"
Jawab orang kaya itu, "Bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini tentu saja itu berarti menambah keuntunganku."
Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang yg sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya. Lalu dihampirinya orang itu, "Mengapa engkau diam di sini? Tidakkah engkau memilih emas-emas itu? Atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?"
Mendengar perkataan prajurit itu,orang ini hanya diam saja. Maka prajurit bertanya lagi, "Atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yg lain?"
Orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran. Lalu ia lebih mendekat lagi, "Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku? "
Sambil menatap prajurit, orang itu menjawab: "Tuan,saya ini orang miskin. Saya tidak pernah tahu mana yg emas & mana yg kuningan. Tetapi HATI SAYA MEMILIH EMAS INI, saya pun tidak tahu berapa kadar emas ini. Atau jika ternyata emas ini hanya kuningan pun saya juga tidak tahu."
"Lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka atau kepadaku kalau engkau tidak tahu." Tanya prajurit itu lagi.
"Tuan, emas & kuningan ini milik raja. Jadi menurut saya hanya raja yg tahu mana yg emas & mana yg kuningan, mana yg 1 karat & mana yg 24 karat. Tetapi satu hal yg saya percaya, janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas, itu yg lebih penting." Jawabnya lugu.
Prajurit ini semakin penasaran, "Mengapa bisa begitu?"
"Bagi saya berapa pun kadar emas ini cukup buat saya. Karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membeli emas Tuan."
Prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya, "Lagipula Tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yg sudah saya ambil. Tidakkah engkau mengambil emas-emas yg lain & menukarnya sekarang selagi masih ada waktu?" Tanya prajurit lagi.
"Saya SUDAH MENGGUNAKAN WAKTU ITU, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan. Jika saya GANTIKAN EMAS INI DENGAN YANG LAIN, BELUM TENTU SAYA MENDAPAT YG LEBIH BAIK DARI PUNYA SAYA INI. Saya memutuskan untuk mengabdi pada raja & merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yg murni."
Tak lama lagi lonceng istana berbunyi, tanda berakhir sudah kegiatan mereka. Lalu raja keluar & berdiri ditempat yg tinggi sambil berkata, "Wahai rakyatku yg kukasihi. Semua emas yg kau genggam itu adalah hadiah yg telah kuberikan. Sesuai dengan perjanjian, tidak seorang pun diperbolehkan menukar atau pun menyia-nyiakan hadiah itu. Jika didapati hal di atas maka orang itu akan MENDAPAT HUKUMAN karena ia tidak menghargai raja."
Kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya. Lalu sekali lagi di hadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal, "Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu. Hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan. Dan hanya akulah yg dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yg memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yg kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu. Tetapi sayang sekali, hanya 1 orang yg datang kepadaku untuk menanyakannya. "
Demikianlah raja yg baik hati & bijaksana itu mengajar rakyatnya. Dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
(Dikutip dari: "When We Have to Choose")
Seorang Siswa dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang Siswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata siswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".
"Siswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.
Siswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".
"Tentu saja," jawab si Profesor,
Siswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada.
Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa siswa lainnya.
Siswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada.
Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Siswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Siswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.
Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak.
Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya siswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak.
Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.
Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."Profesor itu terdiam.