
oleh Herianto
Dari suatu majlis ta’lim, seorang peserta bertanya ke pembicara (ustadz) nya tentang dilema antara keikhlasan dan profesionalisme.
Penjabaran masalahnya seperti ini :
ikhlas adalah berbuat tanpa mengharapkan apa pun selain ridha-NYA, sementara profesionalisme (terutama yang berkaitan dengan maisyah/mata pencaharian) [tentu saja] mengharapkan imbalan (uang, jabatan). Lalu apakah berarti orang-orang yang bekerja secara profesional itu tidak ikhlas atau setidaknya terganggu keikhlasannya ?
Berkaitan dengan ini ada juga dicelotehin pada blog ini : di sini dan di sini.
—
Kalau memang hendak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut, kita bisa saja memulainya lagi dengan bertanya seperti ini :
1. Bolehkah karena merasa kurang ikhlas lalu kita menghentikan (menunda) kewajiban amalan [shaleh] yang lain ?
2. Bagaimana mungkin prinsip ikhlas justru menyempitkan ruang gerak [kemanfaatan] kita di lingkup kehidupan ini ?
—
Definisi
Ikhlas adalah mengharapkan ridha Allah semata. Kata kuncinya adalah : “ridha Allah semata“.
Atas definisi ini tentu bisa dilanjutkan ke pertanyaan berikut :
* Mungkinkah kita memperoleh ridha Allah jika mendapatkan uang dari pekerjaan profesional tersebut ? Atau Allah lebih ridha jika kita membiarkan saja (bahkan menolak) hak tersebut atau justru sebaliknya bisa juga menjadi embrio mukmin yang lemah (fenomena kekufuran) dan/atau pengabaian fitrah.
* Mungkinkah Allah ridha jika kita mendapatkan kekuasaan ? Apakah kita punya hak berkuasa atau kita biarkan agar para ahli maksiat saja yg boleh berkuasa.
* Ridha kah Allah jika kita kaya raya ? Apakah kekayaan tersebut hak orang lain saja atau kita seharusnya meraihnya dan menggunakan sebagai sarana berjuang dijalan-NYA.
Pertanyaan intinya adalah :
Apakah orang-orang yang hendak meraih ikhlas tidak boleh menerima imbalan semacam : pujian (reward penyemangat), kekuasaan, kekayaan dan seterusnya tersebut walaupun target hakiki (ujung sekuensial) dia/mereka sesungguhnya tetap dalam koridor (lingkup) mengharapkan ridha Allah ?
Kita bersikeras di istilah “ikhlas” yang kosong (tanpa mengharapkan apa-apa) itu saja atau di makna “mengharapkan ridha Allah” nya. Di kulit atau isinya ?
—
Ikhlas tapi Tidak Murni
Ada yang mengatakan,”Itu sih tetap ikhlas tetapi tidak murni“.
Tidak murni bagemana ?
Bukankah para ulama sepakat bahwa ikhlas itu adalah kemurnian tujuan kita pada-NYA. Dalam kaitan ini tentu tidak pantas ada dikotomi istilah : ikhlas yang murni dan ikhlas yang tidak murni. Yang ada harus : “ikhlas yang murni” saja.
Lalu ikhlas yang murni itu bagaimana ?
Apakah yang tidak mengharapkan imbalan uang, pujian (baca : reward /penyemangat), jabatan dan seterusnya tadi ?
Kalau memang makna seperti ini yang dikembangkan, lalu apa saja pekerjaan (profesional) yang boleh kita lakukan di kehidupan ini ?
Jadinya ya gak ada dong.
Berarti kita gak boleh kerja.
Pantes aja sebagian ummat ini pada ogah-ogahan untuk bekerja (meraih kesuksesan dunia) :
* Mereka takut berlaku tidak ikhlas atas pengertian seperti tadi, pada akhirnya cenderung terdorong untuk tidak melakukan apa-apa.
* Mereka dicecoki dengan pengertian-pengertian sempit yang membatasi keterlibatan aktifnya di kehidupan.
* Mereka ditakut-takuti untuk terlibat sukses di dunia padahal telah tertata energi ruhiyah (ikhlas –> ihsan) dari ibadah ritualnya yang justru dibutuhkan di aktivitas/perjuangan kehidupan.
—
Ikhlas di ibadah ritual dan di pekerjaan dunia itu berbeda ?
Ada juga pendapat bahwa : Ikhlas di ibadah ritual dan di pekerjaan dunia (profesional) itu berbeda.
Lho kok beda. Ikhlas ya ikhlas. Dimana pun maknanya ya tetap ikhlas.
Kalau sekiranya makna keikhlasan [ibadah] tidak dapat dikaitkan dengan keikhlasan pekerjaan [profesional], berarti kita memisahkan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kehidupan. Bukankah sudah lama faham sekuler dikritik melalui pemaknaan seperti di atas. :lol:
—
Profesional = Bersinerginya Keikhlasan
Pernah dengar istilah : Ihsan ?
Suatu ketika Rasulullah [pura-pura] ditanya [langsung] oleh malaikat/Jibril [yang menyamar] dengan 3 (tiga) pertanyaan berikut : Apa itu Islam, Apa itu Iman, Apa itu Ihsan ?
Ihsan.
Ihsan inilah profesionalisme, yang salah satu syaratnya : ikhlas.
Profesionalisme seorang muslim adalah bersinerginya keikhlasan dalam setiap aktivitasnya.
Tidak ada ikhlas tanpa aktivitas.
Dan ikhlas bukan tidak mengharapkan apa-apa,
tetapi,
mengharapkan ridha-NYA.
—
Jangan berdiam diri dengan alasan menjaga keikhlasan.
Lakukan.
Beraktivitas.
Lakukan.
Tidak ada ikhlas tanpa aktivitas.
Karena ia diterapkan di nyata.
Harus nyata.
sumber: http://herianto.wordpress.com/2008/08/05/ikhlas-3-dan-profesionalisme/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar